Sabtu, 12 Januari 2019

Laksamana Cheng Ho

 

Sang Penjelajah Samudra dari Timur

Cheng Ho (atau Zheng He) adalah salah satu penjelajah paling berpengaruh dalam sejarah dunia. Lahir dengan nama Ma He di Yunnan sekitar tahun 1371, ia tumbuh menjadi seorang laksamana, diplomat, dan kasim kepercayaan Kaisar Yongle dari Dinasti Ming.

Ekspedisi Armada Harta

Antara tahun 1405 hingga 1433, Cheng Ho memimpin tujuh ekspedisi maritim raksasa yang dikenal sebagai “Pelayaran Kapal Harta”. Berbeda dengan penjelajah Barat yang sering kali bertujuan menaklukkan wilayah, misi Cheng Ho lebih difokuskan pada:

  • Diplomasi: Memperkuat pengaruh politik Dinasti Ming di mata dunia.
  • Perdagangan: Menukar sutra dan porselen Tiongkok dengan rempah-rempah, gading, dan hewan eksotis.
  • Keamanan: Menumpas bajak laut yang mengganggu jalur perdagangan di Asia Tenggara.

Jejak di Nusantara

Bagi kita di Indonesia, Cheng Ho bukan sekadar tokoh sejarah Tiongkok. Ia memiliki ikatan emosional yang kuat dengan Nusantara. Dalam perjalanannya, ia berulang kali singgah di berbagai tempat seperti Aceh, Palembang, Cirebon, dan Semarang.

Cheng Ho dikenal sebagai sosok yang religius dan toleran. Melalui armadanya, ia turut menyebarkan pengaruh kebudayaan dan membantu dakwah Islam di tanah Jawa. Warisannya masih berdiri kokoh hingga saat ini, salah satunya melalui Klenteng Sam Poo Kong di Semarang yang dibangun untuk menghormati kehadirannya.

Akhir Hayat dan Warisan

Cheng Ho wafat sekitar tahun 1433 dalam perjalanan pulangnya dari Afrika Timur. Meskipun setelah kematiannya Dinasti Ming memilih untuk menutup diri (isolasi), nama Cheng Ho tetap abadi sebagai simbol perdamaian dan pertukaran budaya antar bangsa.

“Ia mengarungi samudra bukan untuk menjajah, melainkan untuk merajut persaudaraan di seberang lautan.”

Peran sebagai Jembatan Akulturasi

Satu hal yang unik adalah cara Cheng Ho menyebarkan pengaruhnya tanpa menghapus kearifan lokal. Ia memperkenalkan teknologi pertanian, pertukangan, dan pengobatan Tiongkok kepada penduduk lokal yang mayoritas Muslim atau baru mengenal Islam.

Proses ini menciptakan akulturasi budaya yang harmonis. Islam yang dibawa oleh armada Cheng Ho cenderung bersifat damai dan membaur dengan tradisi setempat. Hal inilah yang menyebabkan banyak masjid di pesisir Jawa memiliki arsitektur yang mirip dengan bangunan Tiongkok (seperti atap tumpang atau dominasi warna merah), yang menjadi bukti visual bahwa Islam masuk ke Nusantara melalui jalur persahabatan dan pertukaran ilmu pengetahuan, bukan penaklukan.

Sembilan Wali

 Umumnya kita mengenal Walisongo hanyalah sembilan orang yaitu: Syekh Maulana Malik Ibrahim, Sunan Ampel, Sunan Bonang, Sunan Giri, Sunan Drajad, Sunan Kalijaga, Sunan Kudus, Sunan Muria dan Sunan Gunung Jati. Sebenarnya Walisongo adalah nama suatu da’wah atau Dewan Mubaligh. Apabila salah seorang dari dewan tersebut pergi atau meninggal dunia maka akan segera diganti oleh wali lainnya.

Seperti tersebut dalam Kitab Kanzul Ulul Ibnul Bathuthah yang penulisnya dilanjutkan oleh Syekh Maulana Al Maghrobi, Walisongo melakukan sidang tiga kali yaitu:

  1. Tahun 1404 M adalah sembilan wali.
  2. Tahun 1436 M masuk tiga wali mengganti yang wafat. Tahun 1463 M masuk empat wali mengganti yang wafat dan pergi.
  3. Menurut KH. Dachlan Abd. Qohar, pada tahun 1466 M, Walisongo sidang lagi membahas berbagai hal. Diantaranya adalah perkara Syekh Siti Jenar, meninggalnya dua orang wali yaitu Maulana Muhamad Al Maghrobi dan Maulana Ahmad Jumadil Kubro serta masuknya dua orang wali menjadi anggota Walisongo.

WALISONGO PERIODE PERTAMA
Pada waktu Sultan Muhamad 1 memerintah kerajaan Turki, beliau menanyakan perkembangan agama Islam kepada para pedagang dari Gujarat (India atau Bharat). Dari mereka Sultan mendapat kabar berita bahwa di Pulau Jawa ada dua kerajaan Hindu yaitu Majapahit dan Pajajaran. Di antara rakyatnya ada yang beragama Islam tapi hanya terbatas pada keluarga pedagang Gujarat yang kawin dengan para penduduk pribumi yaitu di kota-kota pelabuhan.

Sang Sultan kemudian mengirim surat kepada para pembesar Islam di Afrika Utara dan Timur Tengah. Isinya meminta para para ulama’ yang mempunyai karomah untuk dikirim kepulau Jawa. Maka terkumpullah sembilan ulama berilmu tinggi serta mempunyai karomah. Pada tahun 808 Hijrah atau 1404 Masehi para ulama itu berangkat ke Pulau Jawa. Mereka adalah: 

  1. Maulana Malik Ibrahim, berasal dari Turki ahli mengatur negara. Berdakwah di Jawa bagian timur. Wafat di Gresik pada tahun 1419 М. Makamnya terletak satu kilo meter dari sebelah utara Pabrik Semen Gresik.
  2. Maulana Ishak berasal dari Samarqand (dekat Buhara-Rusia Selatan). Beliau ahli pengobatan. Setelah tugasnya di Jawa selesai Maulana Ishak pindah ke Pasai dan wafat di sana.
  3. Maulana Ahmad Jumadil Kubra, berasal dari Mesir. Beliau dakwah keliling. Makamnya di Troloyo Trowulan, Mojokerto Jawa Timur.
  4. Maulana Muhammad Al Mahrobi, berasal dari Maghrib (Maroko), beliau berdakwah keliling. Wafat tahun 1465 M. Makamnya di Jatinom Klaten, Jawa Tengah.
  5. Maulana Malik Isroil berasal dari Turki, ahli mengatur negara. Wafat tahun 1435 M. Makamnya di Gunung Santri.
  6. Muhamad Ali Akbar, berasal dari Persia (Iran), ahli pengobatan. Wafat tahun 1435 M. Makamnya di Gunung Santri. 
  7. Maulana Hasanuddin, berasal dari Palestina. berda’wah keliling. Wafat tahun 1462 M. Makamnya disamping masjid Banten Lama. 
  8. Maulana Alayuddin, berasal dari Palestina, berda’wah keliling. Wafat pada tahun 1462M. Makamnya disamping masjid Banten Lama. 
  9. Syekh Subakir, berasal dari Persia, ahli rukyah menumbali tanah angker yang dihuni jin-jin jahat tukang menyesatkan manusia. Dengan adanya tumbal itu jin-jin tadi akan menyingkir dan tanah yang di tumbali dijadikan Pesantren. Setelah banyak tempat yang ditumbali maka Syekh Subakir kembali ke Persia pada tahun 1462 M dan wafat disana. Salah seorang pengikut atau sahabat Syekh Subakir meninggal dunia ketika beristirahat di daerah Blitar. Hingga sekarang makam pengikut Syekh Subakir tersebut ada di sebelah Pemandian Blitar, Jawa Timur. Disana ada peninggalan Syekh Subakir berupa sajadah yang tersebut dari batu kuno.

WALISONGO PERIODE KEDUA
Pada periode kedua ini masuklah tiga orang wali menggantikan tiga wali yang wafat. Ketiganya adalah:

  1. Raden Ali Rahmatullah, datang ke Jawa pada tahun 1421 menggantikan Malik Ibrahim yang wafat pada tahun 1419. Raden Rahmat berasal dari Cempa-Muangthai Selatan.
  2. Sayyid Ja’far Shodiq berasal dari Palestina, datang di Jawa tahun 1436, menggantikan Malik Isro’il yang wafat pada tahun 1435M. Beliau tinggal di Kudus Sehingga dikenal dengan sebutan Sunan Kudus.
  3. Syarif Hidayatullah berasal dari Palestina, datang di Jawa pada tahun 1436 M. Menggantikan Maulana Ali Akbar yang wafat pada tahun 1435. Sidang Walisongo yang kedua ini diadakan di Ampel Surabaya.

Para wali kemudian membagi tugas. Sunan Ampel, Maulana Ishaq dan Maulana Jumadil Kubro bertugas di Jawa Timur. Sunan Kudus, Syekh Subakir dan Maulana Al-Maghrobi bertugas di Jawa Tengah. Syarif Hidayatullah, Maulana Hasanuddin dan Maulana Aliyuddin di Jawa Barat, Dengan adanya pembagian tugas ini maka masing-masing wali telah mempunyai wilayah dakwah sendiri-sendiri, mereka bertugas sesuai keahlian masing-masing.

WALISONGO PERIODE KETIGA
Pada tahun 1463 M. Masuklah empat wali menjadi anggota Walisongo yaitu:

  1. Raden Paku atau Syekh Maulana Ainul Yaqin kelahiran Blambangan Jawa Timur. Putra dari Syekh Maulana Ishak dengan putri Kerajaan Blambangan bernama Dewi Sekardadu atau Dewi Kasiyan. Raden Paku ini menggantikan kedudukan ayahnya yang telah pindah ke Negeri Pasai. Karena Raden Paku tinggal di Giri maka beliau lebih terkenal dengan sebutan Sunan Giri. Makamnya terletak di Gresik Jawa Timur. 
  2. Raden Said, atau Sunan Kalijaga, kelahiran Tuban Jawa Timur. Beliau adalah putra Adipati Wilatikta yang berkedudukan di Tuban. Sunan Kalijaga menggantikan Syekh Subakir yang kembali ke Persia.
  3. Raden Makdum Ibrahim, atau Sunan Bonang, lahir Ampel Beliau adalah putra Sunan Ampel, Sunan Bonang menggantikan kedudukan Maulana Hasanuddin yang wafat pada tahun 1462. Sidang Walisongo yang ketiga ini juga berlangsung di Ampel Surabaya.

WALISONGO PERDIODE KEEMPAT
Pada tahun 1466 diangkat dua wali menggantikan dua yang telah wafat yaitu Ahmad Jumadil Kubro dan Maulana Muhammad Maghrobi. Dua wali yang menggantikannya ialah:

  1. Raden Hasan atau Raden Fattah (Raden Patah) Raden Patah adalah murid Sunan Ampel, beliau adalah putra Raja Brawijaya Majapahit. Beliau diangkat sebagai Adipati Bintoro pada tahun 1462 M. Kemudian membangun Masjid Demak pada tahun 1465 dan dinobatkan sebagai Raja atau Sultan Demak pada tahun 1468.
  2. Fathullah Khan, putra Sunan Gunungjati, beliau dipilih sebagai anggota Walisongo menggantikan ayahnya yang telah berusia lanjut.

WALISONGO PERIODE KELIMA
Dapat disimpulkan bahwa dalam periode ini masuk Sunan Muria atau Raden Umar Said-putra Sunan Kalijaga menggantikan wali yang wafat.

Konon Syekh Siti Jenar atau Syekh Lemah Abang itu adalah salah seorang anggota Walisongo, namun karena Siti Jenar di kemudian hari mengajarkan ajaran yang menimbulkan keresahan umat dan mengabaikan syariat agama maka Siti Jenar dihukum mati. Selanjutnya kedudukan Siti Jenar digantikan oleh Sunan Bayat-bekas Adipati Semarang (Ki Pandanarang) yang telah bertobat dan menjadi murid Sunan Kalijaga.

Sembilan Wali yang dikenal dan dimaklumi masyarakat secara umum para wali yang dimaksud ialah:

  1. Syekh Maulana Malik Ibrahim (Sunan Gresik)
  2. Sunan Ampel
  3. Sunan Bonang
  4. Sunan Giri
  5. Sunan Drajad
  6. Sunan Muria
  7. Sunan Kudus
  8. Sunan Kalijaga
  9. Sunan Gunungjati.
Sembilan Wali inilah yang secara umum diketahui masyarakat sebagai Walisongo. Para peziarah Walisongo, minimal biasanya mendatangi makam sembilan wali tersebut. Adapun jika ziarah itu ingin lebih lengkap maka pemimpin ziarah (yang mengerti sejarah Walisongo) mereka akan menziarahi pula Walisongo periode pertama hingga periode keempat, termasuk guru-guru atau orang tua dari para wali periode kelima. Misalnya, seseorang dari Surabaya yang telah berziarah ke makam Sunan Drajad, ia pasti akan menyempatkan diri berziarah ke makam Syekh Maulana Ibrahim Asmarakandi di Gesikharjo, beliau adalah Kakek Sunan Drajad dan ayah dari Raden Rahmat Sunan Ampel.

Sumber: Kisah Perjalanan Syekh Subakir Walisongo Generasi Pertama Menumbali Tanah Jawa (H.Syamsul Hadi)