Dalam berbagai tradisi filsafat dan spiritual, eksistensi manusia sering dibagi menjadi dua dimensi utama:
1. Apa itu Zahir?
Zahir merujuk pada segala sesuatu yang bersifat tampak, fisik, dan lahiriah. Ini mencakup:
Cara berpakaian dan berpenampilan.
Tindakan nyata yang dilihat orang lain.
Kesehatan fisik dan pencapaian materi.
Zahir adalah "wajah" kita di hadapan dunia. Penting untuk menjaga dimensi ini karena ia mencerminkan disiplin dan rasa hormat kita terhadap diri sendiri dan orang lain.
2. Apa itu Batin?
Batin adalah wilayah internal, spiritual, dan emosional. Ini adalah tempat bagi:
Niat dan kejujuran hati.
Kesehatan mental dan ketenangan jiwa.
Keyakinan serta nilai-nilai moral yang kita pegang.
Batin adalah "akar" dari pohon kehidupan. Jika akarnya kuat dan sehat, maka buah (tindakan lahiriah) yang dihasilkan pun akan baik.
3. Pentingnya Keselarasan
Masalah sering muncul ketika terjadi ketimpangan. Seseorang yang hanya fokus pada Zahir mungkin terlihat sukses di luar namun merasa hampa di dalam (kosong). Sebaliknya, fokus hanya pada Batin tanpa aksi nyata di dunia luar sering kali membuat seseorang sulit memberikan dampak positif bagi lingkungan.
Hidup yang berkualitas adalah hasil dari integrasi keduanya. Menjaga kebersihan hati (Batin) akan memancar dalam perilaku yang mulia (Zahir).
"Engkau adalah Az-Zahir, tidak ada sesuatupun di atas-Mu, Engkau adalah Al-Batin, tidak ada sesuatupun yang berada di balik-Mu." (HR. Muslim)
Az-Zaahir dalam hadits ini ditafsirkan dengan makna tinggi, maka Allah Ta'ala Maha Tinggi di atas segala sesuatu. Sebagian orang menafsirkan zahir dengan makna tampak. Maksudnya adalah Dia tampak bagi akal berdasarkan bukti-bukti akan keberadaan-Nya dan keesan-Nya. Maka Dia Zahir berdasarkan dalil-dalil yang menunjukkannya, serta perbuatan-perbuatan-Nya yang menunjukkan ilmu tentang-Nya. Dia adalah zahir, dapat diketahui berdasarkan akal dan dalil. Dia adalah batin, tidak tampak sebagaimana tampaknya segala sesuatu di dunia. Allah Ta'ala Maha Tinggi. 1
